Connect with us

Kliping

Politik "Jual Ciduh"


Courtesy Ema Rohima

Courtesy Ema Rohima

PERBINCANGAN ihwal apa pun bisa mengalir di pos ronda. Mulai dari yang ringan-ringan — artis cerai umpamanya — hingga persoalan serius. Krisis ekonomi global, bisa menjadi salah satu topik menarik yang bisa menjadi sangat cair di sana.

Juga soal politik. Tak cuma, sebatas perbincangan. Bahkan, bisa diekspresikan pula lewat coretan di bilik gardu ronda. Seperti yang tampak di sebuah pos kamling desa Margasari, Kecamatan Ciawi Kabupaten Tasikmalaya.

Papan catur tergolek di atas tikar di pos kamling siang itu. Pertanda ada denyut di pos itu. Orang-orang sekampung, menggunakan tempat itu untuk menjalankan giliran ronda tiap malam.

Di sela-sela “patroli malam” saat rehat di gardu, tentunya, para peronda itu tidak lantas diam. Berbagai topik yang sedang hangat seringkali menjadi bahan obrolan. Sesekali diselingi tawa lepas.

Di pos kamling Margasari, ada topik aktual yang mengendap. Tulisan di bilik poskamling itu malah lebih kontras, ketimbang plang penunjuk nya.

“Politik Jual Ciduh”)* begitu bunyinya.

Tulisan itu perlu diapresiasi proses kreatifnya. Saat dituangkan oleh pembuatnya, tentu melewati pencerapan berpikir yang diendapkan dari peristiwa-peristiwa. Mengapa yang dituangkan di pos ronda kalimat itu? Tidak yang lain?

Tulisan di pos kamling Margasari itu lahir bak puisi. Meskipun soal ini masih bisa diperdebatkan, paling tidak, itulah puisi konkret yang lahir dari rakyat. Dari peristiwa ke imajinasi, lantas melahirkan lagi peristiwa baru. Peristiwa puitik.

“Politik Jual Ciduh”, bisa menjadi cermin masyarakat saat ini. Tidak saja di Ciawi, namun boleh jadi, di seluruh tanah air.  Menjelang pemilu di daerah hingga senayan, tulisan di pos kamling itu, bisa mencerminkan keadaan masyarakat yang apatis.

Bosan, malah cenderung muak, mendengar janji-janji dan kalimat-kalimat penuh rayuan di spanduk-spanduk. Pasalnya, rakyat sudah mulai melek, selama ini menjadi bulan-bulanan janji manis.

Krisis kepercayaan itu tercermin dalam tulisan di pos kamling. Tempat warga-warga yang peduli pada kampungnya. Mereka yang sangat memahami kondisi di sekitar dan tahu persis apa yang diinginkan warga.

Tulisan itu telah berbulan-bulan tergores di sana. Tak ada yang mengganggu. Dibiarkan terbaca banyak orang. Bahkan, suatu saat ada yang mempertebal kata “Jual”, dengan garis hitam di sisi-sisinya.

)* Politik menjual ludah


1 Komentar

1 Komentar

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kliping

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: