Connect with us

Metrum

Puisi di Ruang Publik

Bayangkan, hidup kita tanpa kesenian. Tanpa musik, nyanyian, dan tarian. Bayangkan, jika hidup tanpa tontonan, tanpa dongeng, tanpa pilihan kata yang indah. Tanpa puisi.

Saat perang berkecamuk, penyair kuat, Chairil Anwar menulis puisi Antara Karawang dan Bekasi. Para penyair ikut berjuang dengan caranya.

Merdeka atau mati! Puisi pendek yang berkobar. Ditulis di dinding-dinding dan diungkapkan banyak orang seraya mengangkat tangan terkepal. Hilang satu, tumbuh seribu.

Semangat puisi sangat mengena, selain melahirkan kesan estetik yang dapat dirasakan langsung. Menembus ruang publik. Memiliki kekuatan emosi yang menyentuh. Lafalnya menggetarkan.

Ekspresi itu, dalam kondisi tertentu, bisa menjadi milik setiap orang. Puisi-puisi pendek yang dicerna secara massal seringkali kehilangan jejak pengarangnya.

Simak saja ekspresi puitis yang ditulis di pantat mobil truk, seringkali memikat. Cinta ditolak, dukun bertindak. Langsung menyampaikan pesan yang menohok. Kutunggu jandamu.

Puisi tetaplah puisi. Walaupun ada kalangan yang tidak tertarik sama sekali. Tanpa puisi roda ekonomi tetap berjalan. Politik terus berdenyut. Agama dan ilmu pengetahuan tetap diajarkan. Teknologi berkembang pesat.

Tapi suatu waktu, orang bisa merasakan kering dan membosankan. Hidup tanpa puisi. Lantaran, sastra tidak saja menghibur, tapi bisa membuat pembacanya menjadi cerdas. Lebih memahami yang tadinya mungkin samar-samar.

Aktivitas anak muda di Taman Kota setiap malam Kamis — Satu Jam Sastra — layak diapresiasi. Mereka memandang kehidupan secara terpadu. Memaknai ruang di sekitarnya.

Mereka mengajak melawan musuh yang bersemayam dalam diri kita sendiri dengan bergembira. Berekspresi dengan merdeka.

Diskusi di Facebook
Continue Reading
Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Tinggalkan Balasan

Advertisement
Advertisement WordPress.com

RSS kapol.id

To Top