Connect with us

Titimangsa

Rumah Sakit di Pinggir Sungai Cimanuk


FOTO: KOLEKSI KITLV
SUASANA Rumah Sakit Garut tempo dulu, berlatar depan sungai Cimanuk, sekitar tahun 1930. (Het ziekenhuis van Garoet met op de voorgrond de Tjimanoek)


SEJALAN dengan pengembangan Priangan, RSUD dr. Slamet Kabupaten Garut, sudah ada dalam rencana tapak Pemerintah Hindia Belanda. Cikal bakal rumah sakit itu semula klinik darurat peruntukan Stadpolisie di Tjimanoek Rivier Weg (Jl. Cimanuk sekarang), tepatnya di asrama tentara.

Klinik darurat itu dirintis dr Mulder dan Stiohtor sejak tahun 1917, kemudian statusnya ditingkatkan. Karena gedung dan fasilitas belum memadai, tempat praktek umum di Gedung Padang Bulan di Societestraat (Gedung BJB, Jl. A Yani, sekarang).

R. Affandhi menceritakan ihwal berdirinya RSUD dr. Slamet dalam bahasa Sunda yang fasih. Kemudian dibagikan laman naratasgarut.wordpress.com secara luas. Gubernur Jenderal D. Fock dan Sekretaris Jenderal G.R. Erdfink, mewakili Ratu Wilhelmina dari kerajaan Belanda menerbitkan Bisluit No. 10279, tanggal 19 Juli 1921.

Langkah itu dilakukan untuk meningkatkan pembangunan di daerah Priangan, termasuk di Garut. Jalan-jalan diaspal, pasar rakyat, rumah sakit, dan infrastruktur lain dibangun.

Pada saat itu pula mulai dibangun jembatan Cimanuk yang menghubungkan Maktal ke arah Patrol, tempat Rumah Sakit Umum (Algemen Zieken Huis). Pada zamannya terbilang representatif. Pasien yang dirawat merasa nyaman.

Tiga sungai mengelilingi rumah sakit itu, yakni Cimanuk, Cipeujeuh, dan Cikamiri. Di depan rumah sakit dibangun lapangan yang dikenal Parijs (De Parijs Plein) dipisahkan Zieken Huis Straat (Jalan Rumah Sakit sekarang). Di sisi-sinya ditanam pohon Ki Hujan (de regen boom). Setahun kemudian, pada bulan Maret 1922, disaksikan Bupati Garut, R.A.A Soeria Karta Legawa, Gubernur Jendral Dirk melantik Fock untuk mengelola rumah sakit itu.

Nama Rumah Sakit Umum dr. Slamet diambil nama dokter yang berjuang menangani warga, terutama saat wabah penyakit pes melanda Garut. Ketika itu dr. Slamet ditugasi menjadi ketua tim pemberantasan penyakit pes. Hingga akhirnya dr. Slamet Atmo Soediro meninggal akibat terserang penyakit pes, pada hari Minggu, 11 Mei 1930.

Kepemimpinan rumah sakit dilanjutkan Dokter H.R. Paryono Soerio Dipoero, yang dipindahkan dari Rumah Sakit Tasikmalaya. Dia menjabat Kepala Rumah Sakit Umum Garoet dari tahun 1935 sampai 1945.

Demi mengenang jasanya, nama dr. Slamet Atmo Soediro terpatri menjadi nama Rumah Sakit Umum Garut dengan Keputusan Mentri Kesehatan RI Nomor 51/Men.Kes./SK/II/79 tahun 1979. (Duddy RS)***


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Titimangsa

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: