Connect with us

Sosbud

Sihir Belanja Online


penipuandaring

Bukti transaksi (courtesy HU. Kabar Priangan)

LATANSA Hanifa Qolbi (20) pekan ini dua kali bernasib apes. Pertama ia tertipu setelah bertransaksi dalam jaringan (online). Lantas diperas oknum tak lama berselang usai bertransaksi.

Awalnya, Hanif — panggilan akrabnya — tertarik dengan sebuah iklan di situs jual beli ternama. Hanif percaya saja, lantaran situs itu sudah terkenal. Dia  membuka situs itu bersama teman-teman sekampus mengincar sebuah telepon genggam berkualitas tapi harga miring.

Samasekali tidak terbersit akan terlilit niat bulus pemasang iklan Nokia E-7 yang dibandrol Rp 1.250.000 itu. “Saya langsung memesannya,” kata warga Dusun Urug, Desa Pusakasari, Kecamatan Cipaku itu.

Dia langsung memesan melalui nomor yang tertera di iklan situs itu atas nama Bambang Setiawan, 089666976709. Alamatnya  pun cukup meyakinkan di Cileungsi Bogor. Betul saja. Saat dihubungi langsung tersambung, memandu Hanif untuk melakukan transaksi, dengan cara transfer uang ke nomor rekening BRI 0993 – 01006 317 509.

Hanif langsung mengirimkan uang pada hari Rabu (26/12/2012) sekitar pukul 13.30 WIB di BRI Cabang Cipaku. “Saya lalu menghubunginya kembali, janjinya barang akan dikirim besoknya (Kamis, 27/12/2012) melalui JNE Tasik,” kata Hanif. Namun, barang yang ditunggu tak kunjung datang. Malah tiba-tiba ada orang yang menghubungi Hanif, mengaku dari bea cukai.

“HP yang kamu beli itu, barang ilegal, hasil selundupan. Kamu sudah terlibat dalam jaringan. Kami akan laporkan ke polisi. Kalau kamu mau selamat harus membayar administrasi ke beacukai Rp 10 juta,” kata Hanif menirukan orang yang meneleponnya itu.

Orang yang mengaku dari bea cukai itu terus meneror Hanif. Sampai akhirnya, menurunkan biaya administrasi dari Rp 10 juta menjadi Rp 2 juta. Hanif ketar-ketir.

“Saya akhirnya mengabulkan permintaan orang itu. Dan langsung mengirim uang ke nomor rekening yang sama, sebesar Rp 2 juta, pada hari Kamis (27/12/2012) sekitar pukul 09.00,” kata Hanif. Sejak saat itu, orang yang mengaku dari bea cukai itu tak lagi mengubungi Hanif.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Barang yang dipesan tak jelas juntrungannya, Hanif  harus merogoh kocek lagi. Uang  Rp 4.250.000 melayang. ***


3 Komentar

3 Komentar

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosbud

  • Sosbud

    BBM Ampuh

    PENGARUH naiknya harga bakar minyak (BBM) ternyata ampuh. Mengatrol harga-harga komoditas lain. Tetapi tidak bila harga...

  • Sosbud

    Sekadar Hari Antikorupsi

    HARI Antikorupsi Dunia, Selasa (9/12/2014), jadi momentum refleksi semua pihak. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota...

  • Sosbud

    Media Sunda Lawas ti Tasikmalaya

    KABEUNGHARAN inteléktual urang Tasikmalaya, di antarana ngaréngkol dina ngokolakeun média. Lian ti koran Sipatahoenan anu gumelar...

  • Sosbud

    Bupati jeung Puisi

    GEDONG Kasenian Tasikmalaya (GKT) diadegkeun taun 1998 kalawan istiméwa. Minangka pangbagéa pamaréntah pikeun para seniman. Sanajan...

  • Sosbud

    Wan Orlet: Soal Becak

    WAWAN Rudiat atau lebih dikenal dengan Wan Orlet, hatinya tak sekeras dunianya. Sehari-hari bergelut dengan dunia...

  • Sosbud

    Tradisi "Enam" Penyair Tasikmalaya

    BERGELUT dengan kata, tidak lantas membuat seseorang dinobatkan menjadi pu­jangga. Setiap saat orang menggunakan bahasa untuk...

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: