Connect with us

Metrum

Simpang Lima Menjelang Fajar

image

SERASA jadi calon legislator, bupati, atau wali kota. Mungkin juga termasuk kepala desa. Malam menjelang fajar, menyambangi para abang becak yang mangkal di simpang lima, Kamis (27/6/2013).

Tapi ini bukan serangan fajar beraroma udang di balik batu. Fajar ini malam yang sejati. Pertanda semangat pergantian siklus waktu menyongsong pagi.

Sore, sebetulnya saya sudah meluncur ke tempat mangkal seorang teman pengayuh becak. Wan Orlet. Rupanya, saat itu sedang “dinas luar”. Saya cuma bertemu Yunus, teman nongkrong Wan Orlet di Simpang Lima itu dan Gedung Kesenian Tasikmalaya.

“Kang Wawan sedang di Cipatujah, Kang!” katanya lalu mengeja nomor telepon genggam milik Wan Orlet. Ditaksir sekitar pukul sepuluh malam sudah pulang.

Saya harus bertemu hari itu juga. Amanah seorang kawan yang enggan digadang-gadang namanya harus sampai. Sepulang lolos “deadline” pekerjaan hari-hari, saya ke Simpang Lima lagi. Sayang, Wan Orlet belum pulang juga.

Saya baru bisa terhubung lewat tengah malam, tepat pukul 00.30 (seperti yang tercatat dalam log panggilan). Akhirnya bertemulah.

“Allohu Akbar,” kata Wan Orlet spontan, saat saya menyampaikan sejumlah uang titipan orang baik hati itu. Boleh jadi, di mata Wan Orlet begitu mengejutkan. Tiba-tiba sejumlah uang berdigit tujuh jatuh dari langit.

“Ada yang membaca blog saya tentang Kang Wawan. Tiba-tiba dia ingin memberikan ini tanpa pamrih,” kata saya sembari merogoh saku jaket.

Tugu dan lampu-lampu menjadi saksi menjelang fajar itu.

Posted from WordPress for Android

Diskusi di Facebook
Continue Reading
Advertisement
Advertisement WordPress.com

Reposted from @AiNurhidayat (get_regrann) - Kelas kecil itu berisi petuah yang bila dimaknai akan menjadi ledakan spirit. Kami kerap menyimpan tradisi kelas kecil untuk membongkar ramai mengubahnya menjadi lebih… instagram.com/p/B3lD15Snzk3/…

About 8 hours ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Instagram

To Top