Connect with us

Titimangsa

Tangkal Asem Kita

SEBELUM tumbang tempo hari, tangkal asem itu bak legenda hidup. Teman sepermainanku masa kecil pasti sepakat. Lantaran, setiap malam Minggu kami sering nongkrong di bawah pohon itu. Bahkan, hari-hari biasa pun, tangkal asem jadi destinasi kami.

“Ditungguan di tangkal asem!” Ah, sudah lama sekali ungkapan itu lenyap.

Saat mendengar kabar pohon itu tumbang, Senin dini hari (16/12/2013), ada yang bergetar dalam benakku. Wajah para bedebah (istilah intim untuk klub berandal ketika itu) hadir dalam lintasan pikiran. Cecep, Deden, Hadyan, Asep Obos, dan yang lainnya. Termasuk gadis manis yang tinggal di tikungan Pasanggrahan, Santi Vandanwangi. Dia, adik kelas SMA-ku.

Pohon itu menyimpan banyak cerita. Usianya sudah ratusan tahun. Aku berada dalam lintasan kenangan. Kenangan yang bergetar, saat aku melewati puing-puing pohon di depan kompleks SD Indihiang itu.

View on Path

Diskusi di Facebook
Continue Reading
Advertisement
Terimakasih telah berkunjung

Tinggalkan Balasan

Advertisement WordPress.com
To Top