Connect with us

Metrum

Ujian Bagi Sang Petahana

KEPEMIMPINAN Bupati dan Wakil Bupati Kabupaten Tasikmalaya, H. Uu Ruzhanul Ulum dan H. Ade Sugianto sedang diuji.

image

Mahkamah Konstitusi pada 29 September 2015, memutuskan pemilihan kepala daerah (pilkada) dilanjutkan meski hanya ada satu pasangan calon. Kabupaten Tasikmalaya termasuk salah satu daerah yang harus menjalani selain Kota Blitar (Jawa Timur), dan Kabupaten Timor Tengah Utara (Nusa Tenggara Timur).

Bukan kebetulan, pasangan bakal calon tunggal di ketiga daerah itu para petahana.  Kehadiran petahana ditenggarai menyulitkan calon lain yang akan menjadi kompetitor. Kondisi itu pula yang diduga menjadi penyebab kontestan pilkada di beberapa daerah diikuti — bakal — calon pasangan tunggal.

Selain itu syarat dukungan calon dari partai politik yang naik menjadi 20 persen kursi DPRD atau 25 persen suara sah hasil pemilu berdampak pada alotnya proses membangun koalisi. Penjajagan komunikasi politik lintas partai berlangsung ketat dan terseok-seok. Menjelang saat menentukan, koalisi yang dibangun bisa buyar.

Peta politik di Kabupaten Tasikmalaya tempo hari berubah dalam hitungan jam. H. Oleh Soleh yang kencang digadang-gadang akan berpasangan dengan petahana Bupati H. Uu Ruzhanul Ulum, tiba-tiba terpental. Saat pendaftaran H. Uu Ruzhanul Ulum bergandengan dengan H. Ade Sugianto, petahana Wakil Bupati.

Sedangkan bakal calon pasangan lain, H. Ruhimat dan H. Nandang Gaosul Adim yang diusung Partai Gerindra dan Partai Demokrat batal mendaftar. Tanda-tanda bakal calon pasangan tunggal pada ajang pilkada Kabupaten Tasikmalaya, sudah terbaca.

H. Ruhimat yang juga menjabat Ketua Dewan Perwakilan Daerah  (DPRD) tentu berhitung. Pasalnya, ada ketentuan bakal calon dengan latar belakang anggota DPR, DPD, atau DPRD harus mundur. Pencalonan dirinya harus ditebus dengan melepaskan jabatan Ketua DPRD. Pertaruhan serius.

Komunikasi politik yang pelik di Kabupaten Tasikmalaya tempo hari menjadi tantangan berat pasangan bakal calon tunggal Uu Ruzhanul Ulum-Ade Sugianto. Sekalipun keputusan Mahkamah Konstitusi menjadi angin segar bagi kedua petahana itu.

Bila sudah disahkan menjadi pasangan calon, pilkada bisa dilanjutkan. Pasangan calon tunggal bisa dikukuhkan dan sah menjadi bupati dan wakil bupati setelah diserahkan kepada masyarakat, dengan menjawab dua opsi, “ya” atau “tidak”.

Pilkada Kabupaten Tasikmalaya Desember mendatang menjadi pertaruhan paling serius bagi Uu dan Ade. Keduanya sedang diuji publik secara langsung oleh masyarakat. Apakah keduanya masih layak atau tidak untuk melanjutkan kepemimpinannya?

Bila mayoritas masyarakat menjawab “ya”, pasangan calon mulus menjadi bupati dan wakil bupati. Bila sebaliknya, pilkada akan digelar tahun 2017. ***

Komentari

Tinggalkan Balasan

Metrum

  • DIARY

    Soempah Pemoeda Milenial

    Diskusi terfokus ikhwal relevansi Soempah Pemoeda era milenial, digelar di Redaksi H.U. Kabar Priangan, Senin (29/10/2018)....

  • DIARY

    Menyambungkan Rasa

    Menyambungkan rasa itu penting. Butuh totalitas. Apalagi saat kita bergerak di dunia yang harus dihayati dan...

  • DIARY

    Gerakan Membaca Koran

    Serikat Perusahaan Pers (SPS) Jawa Barat langsung ancang-ancang menggelorakan kampanye gerakan membaca koran seusai menggelar Musyawarah...

  • Metrum

    Deja Vu Tasikmalaya

    Beberapa hari seusai Kota Tasikmalaya merayakan sweet seventeen, saya berkunjung ke Singaparna, ibu kota Kabupaten Tasikmalaya....

  • Metrum

    I will be missing You #TerimakasihPath

    KECERIAAN Friendster dan kehangatan Multiply telah berlalu. Layanan mikroblog dan blog dalam jaringan itu sudah bubar...

  • Lorong

    Pulitik Daun Hanjuang

    NGARANNA ogé hajat. Satutas lekasan mah layar-layar diturunkeun. Keun urang teundeun di handeuleum sieum, tunda di...

Terhangat

Ke Atas