Connect with us

Sosbud

Wan Orlet: Soal Becak


PENAMPILAN Wan Orlet saat peluncuran Buku Puisi Jerman VII di Komunitas Azan - Cipasung Singaparna Tasikmalaya, Jumat (14/9/2012)

PENAMPILAN Wan Orlet saat peluncuran Buku Puisi Jerman VII di Komunitas Azan – Cipasung Singaparna Tasikmalaya, Jumat (14/9/2012)

WAWAN Rudiat atau lebih dikenal dengan Wan Orlet, hatinya tak sekeras dunianya. Sehari-hari bergelut dengan dunia yang menurut orang kasar. Becak. Tubuhnya yang ramping tak sebanding dengan tenaga yang harus dikeluarkannya setiap hari. Berpeluh-peluh mengayuh becak.

Wan Orlet menikmati hidupnya seperti puisi. Karena kehidupan yang sedang dilakoni, jika dilukiskan dengan serangkaian kalimat, akan penuh dengan ungkapan-ungkapan yang puitis. Dia bangga menjadi penarik becak.

“Persoalannya bukan memilah-milah harkat dengan status pekerjaan, tetapi bagaimana masing-masing mendudukkannya dalam kesejajaran,” tuturnya.

Aktivis kesenian di Tasik, sudah mengenal sosok dia. Saat-saat tertentu, Wan Orlet sering tampak nongkrong di Gedung Kesenian Tasikmalaya. Apalagi kalau sedang ada garapan. Dia sering memarkir becaknya seharian di halaman Gedung Kesenian.

Tak peduli setoran mengejar dirinya seperti buronan. Suatu saat pernah becaknya dirampas majikan, lantaran berhari-hari tak meng­hasilkan duit. Namun Wan Orlet tak jera. Ia kadung mencintai dunia sastra dan teater.

Tahun 1989 tanpa sengaja ia mendapat peran dalam  pertunjukan teater: Ben Go Tun. Malah, tanggal 10 Nopember 1990 ia juga tercatat sebagai salah seorang pendiri Teater Dongkrak, dan sukses menya­bet teater terbaik dalam Pasanggiri Drama Basa Sunda yang dise­lenggarakan Teater Sunda Kiwari di Bandung.

Selain itu ia juga ikut serta mendirikan Teater Ambang Wuruk.  Kendatipun, sekarang Wan Orlet mulai berkiprah di luar kelompoknya. Pernah menyutradarai Nu Jaradi Korban karya R. Hidayat Suryalaga, bekerjasama dengan Teater Girisena.

Naskah-naskah karya sastrawan pribumi, menurut Wan Orlet, tidak kalah nilainya dengan naskah-naskah asing. Termasuk naskah-naskah drama yang ditulis dalam bahasa Sunda. “Kualitasnya tidak jauh dengan King Lear, Hamlet, dan lain-lain. Kenapa tidak, kita sekarang mulai menggarap drama lokal dengan serius,” tandasnya. Tempo hari, dia ikut lomba baca puisi se-Jawa yang  digagas Daniel S. Levi pentolan Jetset. Tak dinyana masuk babak final.

Setelah membacakan puisi karya Sutardji Calzoum Bachri, Wan Orlet keluar panggung. Di selasar sempat bergumam, sudah lama ingin punya becak sendiri, biar tak dikejar-kejar setoran lagi. Lomba waktu itu memang berhadiah uang. Satu juta rupiah untuk Juara I, Rp 500 ribu Juara II, dan Juara III Rp 250 ribu.

Saat Dewan Juri mengumumkan hasil lomba, impian punya becak sendiri melayang. Pasalnya, Wan Orlet belum saatnya menjadi Juara I. Skornya berada di bawah Xyus Supriatna dari Ciamis. Jadi dirinya harus puas mendapat Rp 500 ribu.

“Alhamdulillah, uang ini rejekinya anak dan istri,” katanya.

 

 foto: koleksi Roby Fuzi Apriansyah


Lanjutkan
1 Komentar

1 Komentar

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Sosbud

  • Sosbud

    BBM Ampuh

    PENGARUH naiknya harga bakar minyak (BBM) ternyata ampuh. Mengatrol harga-harga komoditas lain. Tetapi tidak bila harga...

  • Sosbud

    Sekadar Hari Antikorupsi

    HARI Antikorupsi Dunia, Selasa (9/12/2014), jadi momentum refleksi semua pihak. Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) Kota...

  • Sosbud

    Media Sunda Lawas ti Tasikmalaya

    KABEUNGHARAN inteléktual urang Tasikmalaya, di antarana ngaréngkol dina ngokolakeun média. Lian ti koran Sipatahoenan anu gumelar...

  • Sosbud

    Bupati jeung Puisi

    GEDONG Kasenian Tasikmalaya (GKT) diadegkeun taun 1998 kalawan istiméwa. Minangka pangbagéa pamaréntah pikeun para seniman. Sanajan...

  • Sosbud

    Tradisi "Enam" Penyair Tasikmalaya

    BERGELUT dengan kata, tidak lantas membuat seseorang dinobatkan menjadi pu­jangga. Setiap saat orang menggunakan bahasa untuk...

  • Sosbud

    Cahaya Bulan di Buruan

    DULU, tak usah repot mencari taman tempat bermain. Lantaran nyaris di setiap rumah, ada buruan. Pekarangan...

Terhangat

BÉDA rasa, kecap 'nangtung', 'dahar', saméméh dianteur ku kecap 'jung' jeung 'am'. Kecap anteuran ngagambarkeun mimiti migawé. Kecap 'dahar' bisa waé ditapsirkeun eukeur atawa geus dahar. Tapi mun 'am dahar', nu kacipta téh ngamimitian ngahuap. Sarua jeung trét nulis. #preposisi

About 14 hours ago from Duddy RS | Solilokui's Twitter via Twitter for Android

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: