Connect with us

Kliping

Warga Manggungsari Tabu Menyajikan Daging Kerbau


Warga Manggungsari Tabu Menyajikan Daging Kerbau

HAL yang lumrah jika dalam hajatan tersaji masakan masakan daging,  baik daging ayam, sapi maupun kerbau.  Namun yang aneh, di Kp. Cimanggung dan Kp. Manggungsari, dua kampung bertetangga di Ds. Manggungsari, Kec. Rajapolah, Kab. Tasikmalaya. daging kerbau tabu disajikan.

“Masakan daging kerbau dalam hajatan tabu bagi masyarakat di dua kampung tersebut. Jika masyarakat tetap menyajikannya, maka musibah akan menimpa pada warga di dua kampung tersebut,” ujar Kades Manggungsari, Asep Wahyu, belum lama ini.

Dikatakan Asep, menabukan penyajian daging kerbau dalam hajatan sudah berlangsung sejak nenek moyang warga kedua kampung itu.  Dan hingga kini mitos tersebut masih tertanam di warga karena takut terjadi bencana, terutama terhadap si penyelenggara hajatan.

Asep menceritakan sejarah munculnya penabuan daging kerbau dalam hajatan di Cimanggung dan Manggungsari. Menurutnya,  nenek moyangnya dulu yang juga seorang kepala desa hendak menggelar hajatan. Untuk menjamu tamu ia kemudian berencana memotong kerbau. Namun di tengah-tengah kesibukan persiapan hajatan, tiba-tiba kerbau yang akan dipotong mengamuk.
“Hewan itu mengacak-acak semua persiapan hajatan. Tenda tamu dan tenda memasak hancur berantakan. Setelah semuanya berantakan, sang kerbau pergi entah ke mana. Akhirnya, acara hajatan dan pemotongan kerbau pun gagal dilaksanakan.,” katanya.

Maka, lanjut Asep, sejak saat itu kepala desa sebagai pemimpin sekaligus tetua yang dihormati masyarakat, menabukan penyajian daging kerbau di wilayah itu dalam hajatan.
“Apa yang dikatakan sang kades tersebut benar-benar dipercayai dan hingga sekarang masyarakat tidak ada yang berani melanggarnya,” katanya.

Sekitar tahun 1972, lanjut Asep, pernah ada warga yang menyajikan masakan daging kerbau dalam hajatan. Entah lupa atau hanya sekedar mencoba. Namun saat acara sedang berlangsung peristiwa aneh banyak terjadi. Misalnya tiba-tiba nasi persiapan perasmanan tumpah, saat sedang mengantre tenda rubuh dan kejadian aneh lainnya.

“Masih banyak kejadian aneh lainnya yang menimpa, bukan hanya menimpa pemilik hajatan tapi juga warga lainnya,” kata Asep.

Dengan kejadian itu, masyarakat semakin percaya terhadap larangan itu. Bahkan guna menghindari bencana yang menimpa kampungnya, di saat hajatan akan digelar, pemilik hajatan diharuskan memberitahukan terlebih dahulu kepada masyarakat bahwa daging yang akan dimasaknya benar-benar bukan daging kerbau.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kliping

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: