Connect with us

Jurnalisme

Kemerdekaan Berpikir dalam Teks-teks Lama Sora Merdika


Prolog
SORA Merdika (SM) bukan koran biasa. Lahir pada saat yang tepat. Membaca jaman. Koran berbahasa Sunda yang dinahkodai Moh. Sanoesi itu disebut-sebut koran berbahasa Sunda pertama. Terbit perdana tanggal 1 Mei 1920. Jauh-jauh hari sebelum kemerdekaan bangsa ini dideklarasikan.

Terbit setiap hari kecuali hari Jumat dan Minggu. SM sudah mememenuhi dasar-dasar media pada jamannya. Koran itu secara berkala disebarluaskan kepada khalayak luas. Dikelola dengan serius. Sejak tahun pertama, terbit secara berkesinambungan. Sekalipun disebut-sebut sebagai organ Serikat Islam (SI), namun konten yang disuguhkan bersifat umum dan memuat perkembangan mutakhir yang menjadi buah bibir masyarakat ketika itu. Artinya, SM memenuhi karakteristik media massa. Lantaran tersebar luas (publisitas), menyampaikan pesan umum (universalitas), terjaga ritma waktu terbitnya (periodisitas), berkesinambungan (kontinuitas), dan berisi hal baru (aktualitas)[1].

SM menyuarakan kemerdekaan dengan bahasa Sunda yang lugas dan tegas. Kemahiran berbahasa Moh. Sanoesi mewarnai surat kabar yang digawanginya. Sekaligus menandai latar sejarah pergerakan nasional untuk memperbaiki kehidupan rakyat[2].

Koran perjuangan diakui tidak mengedepankan aspek komersial. Sumber kehidupan sangat mengandalkan para pembaca yang berlangganan. Periklanan kurang diperhatikan, bahkan umumnya lemah. Kendala lain, pluralisme aliran politik yang dominan menjadi salahsatu penghambat tumbuhnya koran independen yang bersirkulasi luas pada masa lalu[3].

Pihak manajemen SM sudah mewanti-wanti diri, agar koran itu bisa berumur panjang. Pada Edisi 15, Selasa 10 Agustus 1920 Tahun I, dilayangkan surat untuk para pelanggan. Imbauan agar para pembaca proaktif membayar langganan tanpa harus dijemput inkaso.

Serat ka sadajana langganan

Ti kapengker dongkap ka ajeuna mémang aja baé soerat kabar noe hiroepna henteu langgeng. Nanging sawangsoelna, méh oenggal taoen dongkap deui soerat kabar anjar.

Ari noe parantos2 kadjadian pang sok aya s.k. noe pondok oemoerna téh teu aja sanés sajaktosna dipaéhan koe langgananana, njaéta sok aja langganan nu teu satija majar ongkosna éta soerat kabar.

Ajeuna koe margi parantos seueur tjonto noe boekti, Sora Merdika badé ditijoeng méméh hudjan, tegesna sadajana langganan kedah atos2 ngadjagina S.M. bilih katerapan éta panjakit.

Koe margi éta disoehoenkeun ka sadajana langganan, koe margi S.M. teu atjan ngagadoehan pagawé anoe tjekap, soegri noe teu atjan nampi panagihan, kersa ngintoenkeun baé artos langgananana ka Adminsitratie Sora Merdika, soepados S.M. teu katerap panjakit noe sakitoe bangetna.

Insja Allah, koe ijeu djalan, Sora Merdika tanwandé tijasa nepoengkeun maksoed oerang ka djaman kamerdikaan.

                                                                   Hoermatna
                                                                   Administratie “SORA MERDIKA”
                                                                   Kopoweg 16 Bandoeng.[4]

‘Surat untuk semua pelanggan

Dari kemarin sampai sekarang, memang ada saja surat kabar yang hidupnya tidak langgeng, tetapi sebaliknya, setiap tahun datang lagi surat kabar baru.

Yang sudah-sudah, penyebab surat kabar pendek umurnya, sebenarnya dibunuh oleh pelanggannya sendiri. Ada saja langganan yang tidak setia untuk membayar ongkos surat kabar itu.

Sekarang karena sudah banyak contoh yang terbukti. Sora Merdeka akan sedia payung sebelum hujan. Tegasnya, semua langganan harus berhati-hati menjaga SM, jangan sampai terkena penyakit itu.

Oleh sebab itu, karena S.M. belum memiliki pegawai yang cukup untuk melakukan penagihan, semua pelanggan dimohon mengirimkan uang langganannya ke Administratie Sora Merdika, agar S.M. tidak terkena penyakit yang parah.

Insya Allah, dengan cara ini, Sora Merdika tentunya bisa mempertemukan maksud kita menuju jaman kemerdekaan.

Hormat kami
Administratie “SORA MERDIKA”
Kopoweg 16 Bandoeng.’

Isi surat itu dimuat di halaman pertama, di atas berita utama, lajur paling kiri. Sudah pasti bakal dibaca kali pertama. Saking pentingnya peran langganan demi keberlangsungan koran itu. SM semestinya dijaga agar tetap berdenyut, tegesna sadajana langganan kedah atos2 ngadjagina S.M. Pasalnya, SM lahir untuk mengantar bangsa Indonesia ke pintu gerbang kemerdekaan. Sora Merdika tanwandé tijasa nepoengkeun maksoed oerang ka djaman kamerdikaan[5].

Konten SM menjadi bukti sejarah perkembangan pers di Indonesia. Tidak sekadar berisi berita-berita ringan dan sensasional. Namun SM menonjolkan berita dan analisa yang menyangkut kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya. SM termasuk koran serius.

Menarik dicermati. Kehadiran SM di Tasikmalaya, ditenggarai menjadi tonggak kecil yang menopang lahirnya pers Indonesia. Saat ini media di Indonesia tidak bisa dilepaskan dari latar belakang sejarah nasional. Ada media yang beraliran nasionalis, agamis, dan sosialis.[6]

Sumbu penggerak SM bertautan dengan SI. Nama-nama surat kabar yang menjadi organ SI lebih elegan, tidak terjebak pada simbol bernuansa Islam. Fakta sejarah itu dibuktikan dengan surat kabar yang lahir di beberapa daerah. Sebut saja Sarotomo[7], kemudian cabang SI Surabaya menerbitkan surat kabar Oetoesan Hindia[8], di Semarang Sinar Djawa, dan di Betawi Pantjaran Warta, di Bandung Kaoem Moeda[9], dan di Tasikmalaya SM.

Pilihan kata nama surat kabar yang memperkaya corak SI itu rasa bahasanya lebih netral. Fakta sejarah itu menenggarai SI menjadi tempat bernaung berbagai macam aliran dan ideologi, termasuk komunisme. Ketika akhirnya, pembersihan ideologi dijalankan (1921) dengan dikeluarkannya pengikut komunis dari SI, pencampuran konsep pribumi dan agama itu pun mengalami krisis pula. Lantas menjadi titik keberangkatan pembentukan ideologi dalam sejarah pergerakan kebangsaan.[10]

Tasikmalaya menjadi panggung penting di pentas Indonesia. Kehadiran media massa yang tumbuh subur sejak tahun 1920-an bukti penting yang tak bisa diabaikan. SM, menandai lahirnya kebangsaan Indonesia. Jejak intelektual yang terekam dalam teks.

Terungkap dengan jelas pada halaman pertama koran itu. Alamat redaksi Tasikmalaya. Typ “Galoenggoeng Drukkerij” Tasikmalaja. Sedangkan untuk urusan administrasi sirkulasi, keuangan, dan iklan dipusatkan di Kopoweg 16 Bandoeng. Jajaran redaksi terpampang jelas. Pemimpin Redaksi, Moh. Sanoesi dibantu para redaktur, H.A. Salim, A. Moeis, Alimin, Marco, S. Goenawan, dan Sardjono.

Memotret Ketimpangan Sosial
Baru saja terbit SM langsung menyengat. Bahasa yang komunikatif dan tegas menjadi wadah kultural yang membangkitkan kesadaran. Membuka celah untuk merumuskan identitas bangsa. Mendefinisikan tentang kedirian. Sketsa sosial yang diungkap dalam anekdot yang menghujam. Simak petikan dialog mini yang dimuat di SM ihwal ketimpangan sosial berikut ini.

Djongos contra Toewan

“Ta, koemaha aja ogé senangna djadi djongos téh?”

“Ah, koemaha atoeh teu senang ogé nja koedoe disenang-senang baé. Komo tjoekoep mah pimanaeun, gadoeh f15 dihakan koe genep djelema, mana keur majar padjeg, mana keur kaperloean ijeu, mana keur kaperloean itoe.”

“Hah, baroek majar padjeg? Mowal enja baé ari doenoengan silaing teu keuna padjeg sapésér béngo, noe gadjihna saboelan f70, ari silaing keuna.”

“Na ti mana silaing, nyaho?”

“His kapan déwék geus meunang 6 boelan djadi djoeroetoelis loerah, nja njaho ogé saeutik-eutikeun mah boeboehananana”

“Éh, nja éta atoeh noe borok dirorodjok.”

“His inget ajeuna mah Ta, enja baé Walanda mah noe kaoentoenganana atawa gadjihna koerang ti f 75 saboelan diperékeun, tapi ari kokina mah atawa toekang kebon anoe dibéré dahar maké koedoe majar padjeg.”

“Beu, tjilaka 300 taoen leuwih deui baé.”[11]

Jongos kontra Majikan

“Ta, bagaimana. Ada senangnya juga ya jadi jongos itu?”

“Yah, gimana lagi. Tidak senang pun harus disenang-senangkan saja. Kalo cukup mah dari mana. Punya f15 dimakan oleh enam orang, mana untuk bayar pajak, mana untuk keperluan ini, mana untuk keperluan itu.”

“Ah, masa sih harus bayar pajak? Majikanmu saja yang gajinya f70 sebulan, tidak kena pajak. Sedangkan kamu kena pajak.”

“Darimana kamu tahu?”

“Gini-gini juga saya sudah 6 bulan jadi sekretaris lurah. Ya tahu lah sedikit-sedikit.”

“Ya begitulah yang borok ditusuk-tusuki”

“ Hi, ingat sekarang nih Ta. Ya, Belanda juga yang kena untungnya. Siapa pun yang gajinya yang kurang dari f75 sebulan, dibebaskan. Tapi koki-kokinya atau tukang kebun yang diberi makan (dijamin majikan) tetap harus bayar pajak.”

“Beu, lagi-lagi celaka 300 tahun nih”’

Perbincangan hangat dua warga itu mengalir dan aktual. Ihwal pajak, saat ini pun tetap menjadi isu empuk. Ketimpangan pendapatan seperti yang terungkap dalam dialog yang dimuat SM itu pun – boleh jadi – menjadi perkara yang tak pernah basi.

Ketimpangan pendapatan terjadi karena distribusi dan penguasaan sumber daya alam yang tidak seimbang. Selain itu, kebijakan publik – perpajakan, ketenaga-kerjaan, pendidikan, kesehatan dan lain-lain – yang tidak mencerminkan prinsip keadilan dan pemerataan juga menjadi pemicu ketimpangan baik ekonomi maupun non-ekonomi.

Lebih jauh, ketimpangan juga disebabkan oleh mekanisme pasar yang tidak adil. Pajak sebagai salah satu kebijakan fiskal pada dasarnya dapat menjadi instrumen distribusi ekonomi yang adil dan merata. Namun dalam praktik, pajak justru menjadi salah satu penyebab ketimpangan ekonomi. Tarif pajak yang lebih berpihak kepada kelompok masyarakat kaya dan super kaya adalah bukti yang paling kontras[12]. Konteks itu digambarkan SM sangat lugas. Cukup dengan dialog dua orang bumiputra yang bersahaja.

Opini Kedua
Polarisasi peristiwa berdarah Cimareme, termasuk yang disoroti SM dengan serius. Kisah tragis yang dialami seorang petani, H. Hasan, menjadi topik utama Sora Merdika No. 10 Taoen ka I Salasa 3 Agustus 1920. Peristiwa yang terjadi dipandang sebagai dampak kebijakan Pemerintah Kolonial Hindia Belanda.

Hasan dari Kampung Cimareme, Desa Cikendal, Kecamatan Leles, Kabupaten Garut melayangkan protes demi mempertahankan tanahnya dari tangan kolonial Belanda. Peristiwa itu menjadi penting, karena membawa pengaruh besar dalam permulaan abad ke-20.

Rupanya pandangan SM tentang insiden yang menyeret perkumpulan Afdeling B[13] itu senada dengan tesis Chusnul Hayati yang telah dibukukan, Peristiwa Cimareme 1919: Perlawanan H. Hasan terhadap Peraturan Pembelian Padi, diterbitkan atas kerjasama Mimbar, Ikapi, dan The Ford Foundation, tahun 2000.

Hasil penelitian itu mengungkap Haji Hasan sebagai tokoh utama dalam Peristiwa Cimareme tahun 1919. H. Hasan merupakan keturunan Kesultanan Banten dari ayahnya Kiyai Tubagus Alpani. Ibunya Djamilah, putri R Kartaningrat, pendiri Pondok Pesantren Cimareme.

Sejak muda, H. Hasan sudah sangat disegani oleh warga sekitar. Dia mengajar ilmu agama, membekali para santrinya dengan ilmu silat, dan sangat peduli dengan olahraga. Dia mendirikan perkumpulan pencak silat dan sepakbola. Dia juga melek dengan politik dan bergabung dengan perkumpulan Goena Perlaja pimpimam Kiai Abdullah dari Tegalgubuk Cirebon.

Saat Peraturan Pembelian Padi diberlakukan pada 17 Maret 1919, H. Hasan sudah melakukan penolakan. Dasar penolakannya bukan semata-mata faktor ekonomi, tetapi karena kebenciannya terhadap orang Belanda. Sikap bermusuhan itu sudah tertanam sejak dia masih kecil. Bapaknya selalu mengajarinya untuk menjaga jarak dengan orang Belanda dan kaki tangannya.

Bahkan pernah suatu kali, H. Hasan ditawari jabatan resmi oleh Pemerintah Kolonial Hindia Belanda sebagai tokoh agama, tetapi ditolaknya. Penolakan ini membekas dalam hati para pejabat pemerintah kolonial setempat.

Protes pertama H. Hasan dilakukan saat Wedana Leles datang ke rumah H. Hasan bersama Lurah Cikendal. Saat itu, kedua pejabat pemerintah kolonial ini ingin membayar uang muka pembelian padi milik H. Hasan sebanyak 40 pikul. Tetapi uang itu ditolak, karena H. Hasan hanya bersedia menjual padinya kepada pemerintah sebanyak 10 pikul.

Keberanian H. Hasan menolak uang dari pejabat Pemerintah Kolonial Hindia Belanda dibalas dengan sikap arogan. Wedana Leles yang emosi mengancam akan mendatangkan pejabat pemerintah dan pasukan bersenjata lengkap untuk menyita sawah H. Hasan. Hingga akhirnya, H. Hasan tewas ditembus timah panas[14].

Peristiwa yang menghampar itu menjadi kajian SM yang ditulis oleh I.D. Belum diketahui pasti di balik inisial I.D. itu. Namun, tidak menutup kemungkinan bahwa penulisnya adalah Moh. Sanoesi. Pasalnya, perhimpunan Goena Perlaja di Cimareme disebut-sebut ada memiliki tujuan yang sama dengan SI Afdeling B.

Perkumpulan itu diduga mempunyai hubungan dengan beberapa tokoh seperti Surjopranoto, Ketua Adhi Dharma (Serikat Buruh Gula), Semaun dari ISDV, Alimin dan Abdul Muis dari SI Batavia. Termasuk dengan Moh. Sanoesi dari Bandung, Pemimpin Redaksi SM.

Sikap SM menyayangkan beberapa kalangan yang menuding SI menjadi bagian dari pemberontakan Afdeling B. Bahkan beberapa surat kabar yang disebut golongan putih, habis-habisan menghajar SI. Menuduh SI akan meruntuhkan pemerintah Hindia dengan jalan revolusi.

Koelantaran ngadegna perkoempoelan “Afd B” di Prijangan, geus poegoeh di Tanah Hindija, dalah di Europa ogé geus eundeur pisan koe sora djelema noe ngaloewarkeun pamandangan tina hal ijeu kadjadian.

Soerat-soerat kabar poetih ogé miloe réang ngabidjilkeun timbangan anoe béjak beresih njarékan anggahotana perkoempeolan Sarékat Islam. Béjak-béjak ieu koempoelan diweweléh, diboeboesoek, madjar rék ngaroeboehkeun pamaréntah Hindija djalan barontak (revolutie) …[15]

 ‘Lantaran berdirinya perkumpulan “Afd B” di Prijangan, sudah tentu di Tanah Hindija, di Eropa pun sudah bergetar, oleh suara orang yang melontarkan pendapat tentang peristiwa itu.

Surat-surat kabar putih pun ikut heboh, mengeluarkan pandangan yang habis mencaci anggota perkumpulan Sarekat Islam. Habis-habisan perkumpulan ini dijelekkan, dibusukkan, dituding akan merobohkan pemerintah Hindija dengan jalan memberontak (revolusi)’

Keberpihakan SM sangat gamblang. Mengimbangi isu yang dihembuskan untuk menghabisi SI. Tudingan itu dianggap sangat tendensius. Di antaranya dimuat di Preanger Bode dan Handelsen Nieuwsblad. Tuduhan yang mendiskreditkan SI itu harus diimbangi. Istilah SM timbangan tandingan.

Tampak jelas bangsa Belanda yang tidak berpihak pada pergerakan rakyat. Mereka terkejut dan ketakutan. Lantaran Afdeling B bisa menjadi ancaman serius. Pemberontakan itu bisa menjadi sumbu gerakan menuju kemerdekaan bangsa Indonesia. Gelombang perlawanan rakyat di Cimareme bisa meluas.

Di dijeu koering lain rék njaritakeun koemaha petana atawa prakprakanana éta perkara afd. B téja, da poegoeh koering rék njijeun timbangan sakadarna koemaha tjita-tjita koering kana ijeu kadjadian, soepaja djalma réja (publiek) oelah diproekproekan teuing koe timbangan deungeun2 noe naronggong kana gerakan Priboemi[16].

 ‘Di sini, saya tidak akan menceritakan bagaimana berlangsungnya perkara Afd B. Yang jelas saya akan membuat timbangan sekadarnya, bagaimana pandangan saya terhadap peristiwa ini, supaya publik tidak dijejali oleh pandangan asing yang merongrong gerakan Pribumi’

Dimensi waktu telah diperkenalkan dalam teks-teks suratkabar, tentang perubahan yang selalu mengalir. SM memposisikan diri sebagai wadah kultural baru, bahasa yang komunikatif menyuarakan kesadaran identitas.

Jurnalisme Advokasi dan Sastra
Kecenderungan menyuarakan ketimpangan dan kejanggalan, mengukuhkan SM sebagai penyuntik opini yang kritis menyikapi perkembangan. Jurnalisme advokasi menjadi karakter koran itu ketika menyampaikan pesan awal tentang kemajuan dan identitas. Tiap reportase, tanpa mengingkari fakta, diarahkan untuk membentuk opini publik.

Rangkaian opini yang terbentuk dan hendak diapungkan didapat dari kerja para jurnalis ketika memproses liputan fakta demi fakta secara intens dan sungguh-sungguh. Jadi, kesimpulan opini mereka memiliki korelasi erat dengan realitas-fakta-peristiwa yang terjadi di masyarakat.[17]

Septian Santana Kurnia, dalam Jurnalisme Sastra (2002), mengungkapkan obyektivitas, bagi jurnalisme advokasi, adalah sesuatu yang tak bisa didefinisikan atau dicapai oleh wartawan betapa pun usahanya memerikan rangkaian fakta. Setiap wartawan, dalam persinggungannya dengan realitas persoalan kemanusiaan pasti dipengaruhi oleh referensi pemikiran dan pengalaman sosial mereka di masa lalu.

Setiap wartawan punya kerangka pemikiran dan pengalaman berbeda-beda. Karena itulah, rangkaian fakta linear yang dicerap dan dilaporkan para jurnalis lama dinilai sebagai fakta-fakta “mentah” bila diukur berdasar obyektivitas kebenaran yang hendak diraih. Obyektivitas fakta akan lebih kuat jika dicampur dengan pikiran wartawan yang memakai metode peliputan terukur dan terfokus pada perspektif amatan tertentu. Rangkaian fakta “mentah” jurnalis harian memerlukan perautan kerangka berdasarkan obyektivitas yang didekati dengan perspektif yang lebih luas, analisis yang lebih mendalam, dan konklusi yang lebih terfokus.[18]

Lumrah bila Pemimpin Redaksi SM dan para redakturnya acapkali menyuguhkan pemikiran progresif. Pandangan yang segar menyikapi sebuah persoalan. Cenderung menggerakkan. Justru gaya jurnalisme seperti itu menjadi salah satu karakteristik media yang dibutuhkan. Mengajak masyarakat untuk berpikir terbuka. Persuasif. SM bisa dianggap sudah menjalankan fungsi media dengan lengkap. Wahana informasi, edukasi, hiburan, dan transformasi nilai-nilai sosial yang berujung pada perubahan perilaku.

Konten yang menghibur pun tidak luput. SM menyediakan ruang untuk merenggangkan urat syaraf. Selain konten faktual – yang diolah dari peristiwa – dan faksional – opini atau pendapat – SM ­juga menampilkan konten fiksional, karya-karya kreatif, prosa dan puisi. Ketiga bahan baku konten media itu dimiliki SM.

Sosok Moh. Sanoesi yang lahir di Cimaragas, Banjar Patroman tahun 1889 itu termasuk tokoh penting dalam perkembangan kesusastraan Sunda. Selain dikenal sebagai pejuang kemerdekaan dan wartawan, roman Siti Rayati (1923) salah satu karya berpengaruh dalam khazanah kesusastraan Sunda.

Ajip Rosidi memandang kehadiran Moh. Sanoesi memberi corak tersendiri. Kaum pergerakan kebangsaan yang menentang kekuasaan pemerintah jajahan, mengerti serta mempergunakan bacaan berupa roman sebagai medium untuk menyadarkan rasa kebangsaan dan patriotisme rakyat. Sanoesi menulis beberapa buah buku yang telah membangunkan kesadaran rakyat Sunda, juga telah menyadarkan pemerintah jajahan akan bahaya buku-buku karyanya.[19]

Karangannya yang berjudul Genjlong Garut (1920) yang berupa dangding, telah menimbulkan kegundahan dan menyebabkan penulisnya disekap dalam tahanan. Buku itu tentang pemberontakan H. Hasan di Cimareme, Garut, terhadap pemerintah jajahan. Karangan itu kemudian disusul dengan roman yang menjadi populer dalam masyarakat Sunda, misalnya Siti Rayati (1923) dan Dibélaan Pegat Nyawa (1928).[20]

Epilog
Jejak intelektual di Tasikmalaya masih tercecer di berbagai media. Salahsatunya surat kabar SM. Memotret banyak peristiwa penting dalam wadah kultural literasi. Dokumentasi pemikiran dan pergerakan yang terus mengalir hingga saat ini. Mengukuhkan lahirnya bangsa ini dari perbedaan sudut pandang yang indah. Corak yang semestinya menjadi kekayaan batin yang mewarnai denyut masyarakat.

Anugrah yang patut disyukuri. Perbedaan arah pandangan pada masa lalu, justru mampu merumuskan identitas kolektif bangsa ini. Sejarah dimaknai sebagai cermin yang memantulkan perjalanan eksistensial yang dinamis dan mendewasakan. Berpikir merdeka menyelami teks-teks lama.

Rujukan
Adam, Asvi Warman ed. Sejarah: Pemikiran, Rekonstruksi Persepsi, Jilid VII. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 1999.

Hayati, Chusnul. Peristiwa Cimareme 1919: Perlawanan H. Hasan terhadap Peraturan Pembelian Padi. Semarang: Mimbar. 2000.

Kurnia, Septiawan Santana, Jurnalisme Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2002

Oetama, Jakob. Perspektif Pers Indonesia. Jakarta: LP3S. 1987.

Rosidi, Ajip. Mengenal Kesusastraan Sunda. Bandung: Pustaka Jaya. 2013

Sora Merdika No. 2 Taoen I, 1 April 1920

Sora Merdika No. 10 Taoen I, Salasa 3 Agustus 1920

Sora Merdika No. 15, Taoen I, Selasa 10 Agustus 1920

Surjomihardjo, Abdurrachman ed. Beberapa Segi Perkembangan Sejarah Pers Indonesia. Jakarta: Kompas Media Utama. 2002.

Catatan Kaki
[1] Kelayakan media massa sedikitnya sangat ditentukan keteraturan terbit, bisa harian, mingguan, atau bulanan. Kesemestian isi yang beraneka ragam dan global. Hal inilah yang membuat hampir semua media massa baik lokal, regional maupun nasional selalu menambahkan kolom internasional pada media mereka. Termasuk – pada jaman itu — Laporan tercepat menunjuk pada kekinian, atau terbaru dan masih hangat. Khalayak memerlukan informasi yang paling baru.

[2] Jakob Oetama menulis dalam Perspektif Pers Indonesia, media massa di Indonesia mempunyai latar belakang sejarah yang erat hubungannya dengan pergerakan nasional untuk memperjuangkan kemerdekaan nasional. Pluraliseme dalam pergerakan nasional terdiri dari berbagai subkultur aliran politik, juga tercermin sejak zaman pergerakan dalam berbagai surat kabar. (Oetama, 1987. Hal 151).

[3] Ibid (Hal. 152).

[4] Sora Merdika No. 15, Tahun I, Selasa 10 Agustus 1920 (Hal 1). Surat untuk langganan itu dinilai sangat penting. Selain dimuat di halaman 1 No.15, dalam beberapa edisi selanjutnya diulang kembali. Surat senada dimuat kembali di antaranya pada Edisi No. 82, Kamis Desember 1920 (Hal 3).

[5] Sikap Sora Merdika ditegaskan sebagai media perjuangan.

[6] Sora Merdika memiliki komitmen yang kuat pada idealisme. Cenderung partisan, berhaluan paham yang digelorakan SI.

[7] Sarotomo surat kabar yang menjadi wadah aspirasi merebak luas pada masa awal pendirian SI.

[8] Oetoesan Hindia lahir setelah SI menggelar kongres pertama di Surabaya, 26 Juli 1913, di bawah pimpinan Tjokroaminito, Sosrobroto, dan Tirtodanudjo (Surjomihardjo. Hal 85).

[9] Sejarah: Pemikiran, Rekontruksi, dan Persepsi tentang Pers (seri ke-7), jurnal yang diterbitkan Masyarakat Sejarah Indonesia (MSI) mencatat pencampuradukkan identitas agama dengan kepribumian hal yang sangat lumrah di kalangan masyarakat kota yang baru beranjak dari komunitas orang-orang asing. Islam bukan saja agama, melainkan sekaligus batas kultural dan status yang membedakan penguasa kolonial dan anak negeri. (Abdullah, 1999. Hal 8).

[10] Ibid (Hal 8)

[11] Sora Merdika No. 2 Taoen ka I 1 April 1920

[12] Ah Maftuchan, Ketimpangan Perpajakan di Indonesia: Pemetaan Awal atas Area dan Pilihan Kebijakan untuk Mengatasinya dalam Prastowo (et al.) Ketimpangan Pembangunan Indonesia dari Berbagai Aspek (Jakarta: INFID, OXFAM dan Uni Eropa, 2014), 129-147;

[13] Afdeling adalah sebuah wilayah administratif pada masa pemerintahan kolonial Hindia Belanda setingkat kabupaten. Di bidang perkebunan, afdeling adalah pembagian administratif dari suatu kebun.

[14] Sumber: Chusnul Hayati. Peristiwa Cimareme 1919: Perlawanan H. Hasan terhadap Peraturan Pembelian Padi. Semarang: Mimbar. 2000.

[15] Sora Merdika No. 10 Taoen ka I Salasa 3 Agustus 1920 (Hal 1)

[16] Ibid

[17] Kurnia, Septiawan Santana, Jurnalisme Sastra. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama. 2002. Hal 9

[18] Ibid (Hal 10)

[19] Rosidi, Ajip. Mengenal Kesusastraan Sunda. Bandung: Pustaka Jaya. 2013 (Hal 51).

[20] Ibid.


Lanjutkan

KAPOL

Terkait...
Komentari

Komentari

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Jurnalisme

Ke Atas
%d blogger menyukai ini: